Selasa, 19 April 2011
WALI SEMBILAN (SONGO) SUNAN KUDUS
SUNAN KUDUS
1. Asal - Usul
Menurut salah satu sumber, Sunan Kudus adalah Raden Usman haji yang bergelar
Sunan Ngudung dari Jipang Panolan. Ada yang mengatakan letak Jipang Panolan ini di
sebelah utara kota Blora. Didalam Babad Tanah Jawa, disebutkan bahwa Sunan Ngudung
pernah memimpin pasukan Demak Bintoro yang berperang melawan pasukan Majapahit.
Sunan Ngudung selaku senopati Demak berhadapan dengan Raden Timbal atau Adipati
Terung dari Majapahit. Dalam pertempuran yang sengit dan saling mengeluarkan aji
kesaktian itu Sunan Ngudung gugur sebagai pahlawan sahid. Kedudukannya sebagai senopati
Demak kemudian digantikan oleh Sunan Kudus yaitu putranya sendiri bernama asli Ja’far
Sodiq.
Pasukan Demak hampir saja menderita kekalahan, namun berkat siasat Sunan
Kalijaga, dan bantuan pusaka dari Raden Patah yang dibawa dari Palembang kedudukan
Demak dan Majapahit akhirnya berimbang.
Selanjutnya melalui jalan diplomasi Patih Wanasalam dan Sunan Kalijaga, peperangan
itu dapat dihentikan. Adipati Terung yang memimpin lasykar Majapahit diajak damai dan
bergabung dengan Raden Patah yang ternyata adalah kakaknya sendiri. Kini keadaan
berbalik. Adipati Terung dan pengikutnya bergabung dengan tentara Demak dan
menggempur tentara Majapahit hingga ke belah timur.
Pada akhirnya perang itu dimenangkan oleh pasukan Demak.
2. KEBIJAKAN SUNAN KUDUS DALAM MENYEBARKAN AGAMA
ISLAM
Di samping belajar agama kepada ayahnya sendiri, Raden Jakfar Sodiq juga belajar
kepada beberapa ulama terkenal. Diantaranya kepada Kiai Telingsing. Nama asli Kiai
Telingsing ini adalah The Ling Sing, beliau adalah seorang ulama dari negeri Cina yang
datang ke Pulau Jawa bersama Laksamana Jenderal Cheng Hoo. Sebagaimana disebutkan
dalam sejarah Jenderal Cheng Hoo yang beragama Islam itu datang ke Pulau Jawa
mengadakan tali persahabatan dan menyebarkan agama Islam melalui perdagangan.
Di Jawa, The Ling Sing cukup dipanggil dengan sebutan Telingsing, beliau tinggal di
sebuah daerah subur yang terletak diantara sungai Tangulangin dan Sungai Juwana sebelah
Timur. Disana beliau bukan hanya mengajarkan agama Islam, melainkan juga mengajarkan
kepada para penduduk seni ukir yang indah.
Banyak yang datang berguru seni ukir kepada Kiai Telingsing, termasuk Raden Jakfar
Sodiq itu sendiri. Dengan belajar kepada ulama yang berasal dari Cina itu, Jakfar Sodiq
mewarisi bagian dari sifat positif masyarakat Cina yaitu ketekunan dan kedisiplinan dalam
mengejar atau mencapai cita-cita. Hal ini berpengaruh besar bagi kehidupan dakwah Raden
Jakfar Sodiq di masa yang akan datang yaitu takkala menghadapi masyarakat yang
kebanyakan masih beragama Hindu dan Budha.
kisah dan ajaran Wali Sanga > karya H.Lawrens Rasyidi > published by ronKramer 3
Selanjutnya, Raden Jakfar Sodiq juga berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya
selama beberapa tahun. Didalam legenda dikisahkan bahwa Raden Jakfar Sodiq itu suka
mengembara, baik ke Tanah Hindustan maupun ke Tanah Suci Mekkah. Sewaktu berada di
Mekkah beliau menunaikan ibadah haji. Dan kenetulan di sana ada wabah penyakit yang
sukar di atasi. Penguasa negeri Arab mengadakan sayembara, siapa yang berhasil
melenyapkan wabah penyakit itu akan diberi hadiah harta benda yang cukup besar jumlahnya.
Sudah banyak orang mencoba tapi tak pernah berhasil. Pada suatu hari Sunan Kudus
atau Jakfar Sodiq menghadap penguasa negeri itu tapi kedatangannya disambut dengan sinis.
“Dengan apa Tuan akan melenyapkan wabah penyakit itu ?” tanya sang Amir.
“Dengan do’a,” jawab Jakfar Sodiq singkat.
“Kalau hanya do’a kami sudah puluhan kali melakukannya. Di Tanah Arab ini banyak
para ulama dan Syekh-Syekh ternama. Tapi mereka tak pernah berhasil mengusir wabah
penyakit ini.”
“Saya mengerti, memang Tanah Arab ini gudangnya para ulama. Tapi jangan lupa ada
saja kekurangannya sehingga do’a mereka tidak terkabulkan,” kata Jakfar Sodiq.
“Hem, sungguh berani Tuan berkata demilian,” kata Amir itu dengan nada berang.
“Apa kekurangan mereka ?”
“Anda sendiri yang menyebabkannya,” kata Jakfar Sodiq dengan tenangnya. “Anda
telah menjanjikan hadiah yang menggelapkan mata hati mereka sehingga do’a mereka tidak
ikhlas. Mereka berdo’a hanya karena mengharap hadiah.”
Sang Amirpun terbungkam atas jawaban itu.
Jakfar Sodiq lalu dipersilahkan melaksanakan niatnya. Kesempatan itu tak disiasiakan.
Secara khusu Jakfar Sodiq berdo’a dan membaca beberapa amalan. Dalam tempo
singkat wabah penyakit mengganas di negeri Arab telah menyingkir. Bahkan beberapa orang
yang menderita sakit keras mendadak saja sembuh. Bukan main senangnya hati sang Amir.
Rasa kagum mulai menjalari hatinya. Hadiah yang dijanjikannya bermaksud diberikannya
kepada Jakfar Sodiq. Tapi Jakfar Sodiq menolaknya, dia hanya minta sebuah batu yang
berasal dari Baitul Maqdis. Sang Amir mengijinkannya. Batu itupun dibawa ke Tanah Jawa,
di pasang di pengimaman masjid yang didirikannya sekembali dari Tanah Suci.
Jakfar Sodiq adalah pengikut jejak Sunan Kalijaga, dalam berdakwah menggunakan
cara halus atau Tutwuri Handayani. Adat istiadat rakyat tidak ditentang secara frontal,
melainkan diarahkan sedikit demi sedikit menuju ajaran Islami.
Rakyat kota Kudus pada waktu itu masih banyak yang beragama Hindu dan Budha.
Para Wali mengadakan sidang untuk menentukan siapakah yang pantas berdakwah di kota itu.
Pada akhirnya Jakfar Sodiq yang bertugas di daerah itu. Karena masjid yang dibangunnya
dinamakan Kudus maka Raden Jakfar Sodiq pada akhirnya disebut Sunan Kudus.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar